Oke, kembali ke topik. Minggu-minggu belakangan kayaknya mood-ku lagi 80-an sekali. Diawali dari sebuah klip yang diputer di bis Malang-Surabaya. Rano Karno dengan Bukalah Kacamatamu. Ketawa aja ngelihatnya. Video klip buatan bapak-bapak di TVRI, klasik, berkilau-kilau ala Selekta Pop. Jadi teringat pas jaman SMP dulu. Ada guru-guru eh..calon guru dari Program Diploma II, ato lebih dikenal sebagai guru praktek. Nah, salah satu dari mereka, atas request dari anak2 SMP yang masih keganjenan saat itu rela menyanyi lagu ini. Gdubrak!!! Lucu aja mengingatnya.
...kelap-kelip lampu di kota, kutak-kutik matamu nakal, senyum manis rayuan gombal, berdiri bulu kudukku...Horor juga lagu ini, sampe bulu kuduk ikut berdiri :))
Terus tengah malam kapan itu, TPI muter filmnya Amy Priyono. Rano Karno (!!) ama Soraya (Zoraya??) Perucha. Judulnya 'Yang Terlarang Yang Tersayang'. Ceritanya sih klasik. Soal pertentangan antar generasi, anak mama yang mendadak jadi bandel dan terpikat pada seorang hostess (dalam pengertian yang masih 'innocence' lho). Dia rela meninggalkan kekayaannya demi hostess itu. Mengajaknya menikah dan berhenti dari kuliah. Kemudian hostess itu menyemangati pria ini agar mau kuliah lagi. Dan endingnya itu lho, sangat Indonesia tapi sekaligus gak maksa. Just fit right in...Belum lagi soundtrack-nya yang jujujujung...jujujung....synthesizer gitulah. Dan tentu saja jangan lupa, harus ada apa dalam film Indonesia jaman dulu? Sex? Salah...Yang harus ada adalah Zainal Abidin!!! Hahaha...dia kayaknya aktor wajib deh. Jadi bapak-bapak over protektif, jadi om-om, jadi bapak bijaksana. All around pokoknya.
Satu catatan, pertentangan antar generasi di film ini tidak diwakili dengan mata mendelik-delik, ucapan-ucapan dengan volume kampanye, sebagaimana sinetron-sinetron sampah Punjabi dkk. Semuanya dibawakan dengan wajar. Lagipula kita bukan orang bodoh kok. Kemarahan mudah dipahami tanpa pelototan mata dan volume-volume kampanye itu.
Film yang fun dan nostaljik (??)
Lantas yang terakhir membangkitkan mood 80-an adalah pas liat duet Vina Panduwinata dengan Fariz RM di tivi. Vina tentu saja telah memperoleh penghargaan sebagaimana mestinya, album the best-lah, konser tunggal-lah, nah!! Kupikir seseorang macam Fariz RM juga dan sangat pantas memperolehnya. Entah kenapa dia sepertinya terlupakan dalam kancah musik dewasa ini. Siapa meragukan kualitas lagu-lagunya tahun 80 hingga 90-an? Barcelona, Sundown at Midnight, Persimpangan Cinta (all time favourites), Mungkin Ini Cinta, dst dst....Dulu sempat juga liat konser dia bareng Superdigi dan Tujuh Bintang. Ada Eet Sjahranie segala. Jaman SMP, konser yang menyenangkan. Duh...Apa karena dia tergabung di Musica yang notabene berukuran kecil dibandingkan raksasa2 label lainnya macam Sony BMG, Universal, ato Warner Music? Sehingga dia tidak memperoleh cukup kesempatan untuk mengasah kembali kemampuannya? Entahlah....Sudah saatnya ada yang berpikir untuk membuat album Tribute to Fariz RM....Pasti dahsyaat.
Ah, tahun 80-an yang menyenangkan. Masih di bawah rezim Soeharto tapi who cares???Masih kecil kok akunya, yang penting masa-masa itu menyenangkan untuk dikenang-kenang lagi.
Posted by afterglue | ![]()
![]()
« Home | Vito Bratta!!! » //-->
Add a comment: