+
Afterglue, Melekat

Friday, September 22, 2006

B.J. Habibie

Ada yang liat Kick Andy kapan itu? Wawancara dengan B.J. Habibie terkait peluncuran bukunya 'Detik-detik yang menentukan'. Entah kenapa ada semacam penyesalan mengapa kita sebagai bangsa terjebak euforia anti Orde Baru setelah Pak Harto mengundurkan diri. Padahal dengan ditunjuknya B.J. Habibie secara tidak sadar kita sebenarnya menyerahkan nakhoda kepada orang yang benar. Bullshit semua penolakan hanya karena Habibie adalah anak emas Soeharto, sebab dari apa yang aku lihat dan aku rasakan dia adalah orang yang tulus, tidak pretensius, dan terbukti - meski kini perlahan-lahan telah banyak dilupakan - dialah yang membuka banyak keran yang selama 32 tahun tertutup. Apakah itu kebebasan pers, pembebasan Tapol, lepasnya Timor Timur (apa saat ini, dalam kondisi seperti ini, bencana di mana-mana, kita masih mau direcokin Timtim sekali lagi???) dan banyak hal lain yang kita anggap 'taken for granted' saat ini adalah hasil dari masa pemerintahan pendek beliau.

Sejarah mungkin menjadi semacam episode kabur bagi keseharian kita, padahal apa yang terjadi pada 1997-1998 akan menjadi bahan pelajaran bagi anak cucu kita kelak, tercetak dalam buku sejarah, buku2 otobiografi entah siapa. Bayangkan apa yang akan aku jawab kalau kelak ada yang bertanya 'ada di mana bapak pada 1997 itu?' Hehehe...maaf saja, pas Pak Harto pidato mengundurkan diri aku masih tidur tuh. Segala gejolak di Jakarta terasa begitu berjarak dengan banyak dari kita. Kita hanya memandangnya dari televisi, sama halnya dengan saat ini kita menonton banyak reality show kriminalitas yang seringkali konyol. Kita mengabaikan meski begitu nyata dan jelas mempengaruhi arah bangsa ini.

Tapi kemudian bangsa yang mana? Entahlah, banyak dari kita kurang perduli.

Dan di era di mana seorang wakil rakyat bisa tertangkap beradegan porno di HP, atau sepasang calon bupati (yang kini terpilih pula!!!) kedapatan berpose panas di media serupa, maka betapa kita merindukan orang-orang berotak cerdas dan tulus seperti Habibie untuk memimpin negara ini. Ribuan orang berotak cerdas - taruhan satu juta - bisa dipastikan enggan mengambil posisi sebagai pembuat keputusan bagi ratusan juta penduduk negeri ini. Sebab bagaikan ikan arowana, politik seperti lumpur Lapindo, butek, keruh, dan dipenuhi ikan-ikan yang bebal. Banyak dari arowana itu mungkin lebih rela diletakkan di akuarium indah. Dalam analogi serupa, banyak dari orang-orang cerdas itu mengambil jalan pragmatis bagi hidup mereka sendiri-sendiri daripada tercebur dalam kehidupan politik yang oportunis. Contoh kasus : Alwi Shihab, orang pinter, baik, tapi seringkali dioprak-oprak orang gara-gara terlibat di PKB.

Kemudian konsekuensinya, tentu saja kita hanya bisa memilih orang-orang yang melakukan pendekatan kekuasaan dengan perhitungan angka massa saja, dengan tunggangan politik sesaat saja, tanpa benar-benar memikirkan apa yang dilakukannya setelah memimpin nanti. Jadi apa perduli orang kalau seorang pemimpin beradegan porno sepanjang massanya berjuta-juta dan menganggap itu semua fitnah belaka? Betapa mudahnya jadi bupati, gubernur, presiden....


Posted by afterglue |


« Home | Lovely 80'S » //-->





Add a comment:

Name
Website   Html allowed : <a>, <b>, <i>

 


 © Afterglue, Melekat 2005 - Powered by angkringan for afterglue progressive