Wednesday, September 27, 2006
Ramadhan sudah berjalan empat hari, semestinya kegembiraan menyambut ramadhan dibarengi dengan intensitas ibadah yang meningkat.
Tapi...
Kok jadi begini? Males-malesan, hohahem, ngantuk mulu. Bahkan berbuka pun seperti kurang selera. Duh, kenapa ya?
Semoga ramadhan tersisa menjadi lebih baik. Aduh.....dasar diriku.
Posted by afterglue | 

Friday, September 22, 2006
Ada yang liat Kick Andy kapan itu? Wawancara dengan B.J. Habibie terkait peluncuran bukunya 'Detik-detik yang menentukan'. Entah kenapa ada semacam penyesalan mengapa kita sebagai bangsa terjebak euforia anti Orde Baru setelah Pak Harto mengundurkan diri. Padahal dengan ditunjuknya B.J. Habibie secara tidak sadar kita sebenarnya menyerahkan nakhoda kepada orang yang benar. Bullshit semua penolakan hanya karena Habibie adalah anak emas Soeharto, sebab dari apa yang aku lihat dan aku rasakan dia adalah orang yang tulus, tidak pretensius, dan terbukti - meski kini perlahan-lahan telah banyak dilupakan - dialah yang membuka banyak keran yang selama 32 tahun tertutup. Apakah itu kebebasan pers, pembebasan Tapol, lepasnya Timor Timur (apa saat ini, dalam kondisi seperti ini, bencana di mana-mana, kita masih mau direcokin Timtim sekali lagi???) dan banyak hal lain yang kita anggap 'taken for granted' saat ini adalah hasil dari masa pemerintahan pendek beliau.
Sejarah mungkin menjadi semacam episode kabur bagi keseharian kita, padahal apa yang terjadi pada 1997-1998 akan menjadi bahan pelajaran bagi anak cucu kita kelak, tercetak dalam buku sejarah, buku2 otobiografi entah siapa. Bayangkan apa yang akan aku jawab kalau kelak ada yang bertanya 'ada di mana bapak pada 1997 itu?' Hehehe...maaf saja, pas Pak Harto pidato mengundurkan diri aku masih tidur tuh. Segala gejolak di Jakarta terasa begitu berjarak dengan banyak dari kita. Kita hanya memandangnya dari televisi, sama halnya dengan saat ini kita menonton banyak reality show kriminalitas yang seringkali konyol. Kita mengabaikan meski begitu nyata dan jelas mempengaruhi arah bangsa ini.
Tapi kemudian bangsa yang mana? Entahlah, banyak dari kita kurang perduli.
Dan di era di mana seorang wakil rakyat bisa tertangkap beradegan porno di HP, atau sepasang calon bupati (yang kini terpilih pula!!!) kedapatan berpose panas di media serupa, maka betapa kita merindukan orang-orang berotak cerdas dan tulus seperti Habibie untuk memimpin negara ini. Ribuan orang berotak cerdas - taruhan satu juta - bisa dipastikan enggan mengambil posisi sebagai pembuat keputusan bagi ratusan juta penduduk negeri ini. Sebab bagaikan ikan arowana, politik seperti lumpur Lapindo, butek, keruh, dan dipenuhi ikan-ikan yang bebal. Banyak dari arowana itu mungkin lebih rela diletakkan di akuarium indah. Dalam analogi serupa, banyak dari orang-orang cerdas itu mengambil jalan pragmatis bagi hidup mereka sendiri-sendiri daripada tercebur dalam kehidupan politik yang oportunis. Contoh kasus : Alwi Shihab, orang pinter, baik, tapi seringkali dioprak-oprak orang gara-gara terlibat di PKB.
Kemudian konsekuensinya, tentu saja kita hanya bisa memilih orang-orang yang melakukan pendekatan kekuasaan dengan perhitungan angka massa saja, dengan tunggangan politik sesaat saja, tanpa benar-benar memikirkan apa yang dilakukannya setelah memimpin nanti. Jadi apa perduli orang kalau seorang pemimpin beradegan porno sepanjang massanya berjuta-juta dan menganggap itu semua fitnah belaka? Betapa mudahnya jadi bupati, gubernur, presiden....
Posted by afterglue | 

Wednesday, September 20, 2006
Sebenarnya tulisan ini sudah melekat di benak dan mestinya juga sudah harus tampil di blog ini. Tapi apa daya, segala macam kesibukan yang turun temurun menundanya.
Oke, kembali ke topik. Minggu-minggu belakangan kayaknya mood-ku lagi 80-an sekali. Diawali dari sebuah klip yang diputer di bis Malang-Surabaya. Rano Karno dengan Bukalah Kacamatamu. Ketawa aja ngelihatnya. Video klip buatan bapak-bapak di TVRI, klasik, berkilau-kilau ala Selekta Pop. Jadi teringat pas jaman SMP dulu. Ada guru-guru eh..calon guru dari Program Diploma II, ato lebih dikenal sebagai guru praktek. Nah, salah satu dari mereka, atas request dari anak2 SMP yang masih keganjenan saat itu rela menyanyi lagu ini. Gdubrak!!! Lucu aja mengingatnya.
...kelap-kelip lampu di kota, kutak-kutik matamu nakal, senyum manis rayuan gombal, berdiri bulu kudukku...Horor juga lagu ini, sampe bulu kuduk ikut berdiri :))
Terus tengah malam kapan itu, TPI muter filmnya Amy Priyono. Rano Karno (!!) ama Soraya (Zoraya??) Perucha. Judulnya 'Yang Terlarang Yang Tersayang'. Ceritanya sih klasik. Soal pertentangan antar generasi, anak mama yang mendadak jadi bandel dan terpikat pada seorang hostess (dalam pengertian yang masih 'innocence' lho). Dia rela meninggalkan kekayaannya demi hostess itu. Mengajaknya menikah dan berhenti dari kuliah. Kemudian hostess itu menyemangati pria ini agar mau kuliah lagi. Dan endingnya itu lho, sangat Indonesia tapi sekaligus gak maksa. Just fit right in...Belum lagi soundtrack-nya yang jujujujung...jujujung....synthesizer gitulah. Dan tentu saja jangan lupa, harus ada apa dalam film Indonesia jaman dulu? Sex? Salah...Yang harus ada adalah Zainal Abidin!!! Hahaha...dia kayaknya aktor wajib deh. Jadi bapak-bapak over protektif, jadi om-om, jadi bapak bijaksana. All around pokoknya.
Satu catatan, pertentangan antar generasi di film ini tidak diwakili dengan mata mendelik-delik, ucapan-ucapan dengan volume kampanye, sebagaimana sinetron-sinetron sampah Punjabi dkk. Semuanya dibawakan dengan wajar. Lagipula kita bukan orang bodoh kok. Kemarahan mudah dipahami tanpa pelototan mata dan volume-volume kampanye itu.
Film yang fun dan nostaljik (??)
Lantas yang terakhir membangkitkan mood 80-an adalah pas liat duet Vina Panduwinata dengan Fariz RM di tivi. Vina tentu saja telah memperoleh penghargaan sebagaimana mestinya, album the best-lah, konser tunggal-lah, nah!! Kupikir seseorang macam Fariz RM juga dan sangat pantas memperolehnya. Entah kenapa dia sepertinya terlupakan dalam kancah musik dewasa ini. Siapa meragukan kualitas lagu-lagunya tahun 80 hingga 90-an? Barcelona, Sundown at Midnight, Persimpangan Cinta (all time favourites), Mungkin Ini Cinta, dst dst....Dulu sempat juga liat konser dia bareng Superdigi dan Tujuh Bintang. Ada Eet Sjahranie segala. Jaman SMP, konser yang menyenangkan. Duh...Apa karena dia tergabung di Musica yang notabene berukuran kecil dibandingkan raksasa2 label lainnya macam Sony BMG, Universal, ato Warner Music? Sehingga dia tidak memperoleh cukup kesempatan untuk mengasah kembali kemampuannya? Entahlah....Sudah saatnya ada yang berpikir untuk membuat album Tribute to Fariz RM....Pasti dahsyaat.
Ah, tahun 80-an yang menyenangkan. Masih di bawah rezim Soeharto tapi who cares???Masih kecil kok akunya, yang penting masa-masa itu menyenangkan untuk dikenang-kenang lagi.
Posted by afterglue | 

^