Wednesday, December 20, 2006
Sudah berapa tahunkah film Indonesia bangkit kembali? Semenjak mati suri sekitar tahun 90-an, paling sekitar 10 tahunan sudah. Dari sekian banyak film yang beredar, adakah yang menarik hatiku untuk mengeluarkan uang, menontonnya? Hmmmm....baru satu. Pasir Berbisik. Jadi hitung saja berapa duit sudah? Sekitar 30.000 rupiah deh dan berapa waktunya? sekitar sejam setengah.....Udah, segitu aja penghargaan saya untuk karya anak negeri. Bandingkan dengan ratusan bahkan mungkin ribuan film Hollywood yang dengan sukarela kutonton, kualirkan uang devisa ke Amerika Serikat, kuhabiskan waktu.
Lantas salahnya dimana?
Salahnya adalah film Indonesia lebih susah ditelan dari film negara lain. Bukan apa-apa. Aku tidak bermaksud menjelekkan film susah. Susah ditelan ini artinya kita tidak rela menontonnya, tidak rela tertawa atas humornya, tidak rela takut atas horornya, tidak rela sedih atas kisah mendayu-dayunya, tidak rela. Itu saja.
Kenapa tidak rela?
Bayangkan dua film terbaru yang sudah dan akan muncul di teater ini. Dunia Mereka dan Death Time......Sepertinya para filmmaker kita ni obsessed banget dengan yang namanya kepribadian ganda. Dunia Mereka coba, yang satu adalah lesbi, yang satu pacaran ama orang kena AIDS, yang satu gendeng, yang satu dukun santet...Gak gitu banget sih, tapi c'mon!!! Kemudian Death Time, tokoh utamanya juga dikisahkan berkepribadian ganda.
Atau yang udah pernah beredar Belahan Jiwa (emang laku ni film???)
Sekali lagi c'mon!!!!
Mana cerita-cerita sederhana yang menarik hati, tanpa pretensi sok AIDS, sok lesbi/gay, sok kepribadian ganda, sok aksi....Mana? Padahal ada sepercik harapan di TV. Ada yang kenal Bajaj Bajuri atau OB?? Aku selalu bertanya-tanya, siapa orang-orang jenius dibalik sitkom ini? Apakah mereka tidak ingin menulis skenario film yang 'catchy' seperti sitkom TV mereka? Dan memberikan tamparan di wajah filmmaker2 yang cuma bisa nge-syut tapi ga bisa bercerita.
C'mon!!!!
Karakter-karakter yang kuat dan berciri muncul dari dua sitkom ini. Mail, Mas Say, Sascha, Gusti, Hendra, Taka, Odah, Bajuri, Oneng, Emak, Mpok Indun.....Ini baru karakter namanya. Ketika kita menonton kita seperti menonton orang-orang di sekitar kita, dengan permasalahan yang juga disekitar kita. Akrab, menyentuh, lucu...Sesuatu yang kayaknya film Indonesia belum ketemukan. Sampai sekarang.
Yang kita temukan, atau mereka yang nonton temukan adalah cerita-cerita dangkal tanpa arah. Sekedar memenuhi kuota atau karena kebanyakan duit atau malah karena ga punya duit - dengan harapan ABG2 mentah itu mau menelan film2 horor gitu2 aja dan memberikan duit mereka kepada para produser itu...
I mean, c'mon!!!!!
Posted by afterglue | 

Wednesday, December 06, 2006
Walah, ini bener2 suatu kegembiraan yang teramat sangat.
Ada semacam kesegaran yang membasuh kebosanan di warnet.
It called youtube.com....
Sederhana saja, banyak video hebat berkeliaran. Bukan video2 narsis, tapi video gitaris. Gitaris2 hebat!!
Vito Bratta, Paul Gilbert, Steve Vai, Billy Sheehan, Kotzen, Andy Timmons, Neil Zaza..
It's just awesome.
Jadi ga sabar download semua hahahaha...
Don't u love the internet??
Posted by afterglue | 

Thursday, October 19, 2006
Kan, lebaran bentaran lagi...Ini tentu saja lebaran pertama dalam keadaan sudah berkeluarga, semoga saja akan berjalan dengan baik dan mengesankan. Aku ga pingin apa-apa, baju baru, sarung baru (paling cuma underwear baru - biar adhem :)) Yang paling aku ingin adalah lebaran ini berlangsung dalam situasi rileks dan tak tegang. Maklum belakangan ada beberapa masalah yang menggantung di sekitar kami. Bukan masalah besar tapi aku kuatir memicu konflik kecil-kecilan. Duh, moga-moga ga terjadi.O iya, pesenan komik dah datang tapi keselnya malah keliru yang dikirimkan. Wolverine Origins-nya mannnaaa??? Malah Ultimate X-Men 1 yang sudah kubaca yang dikirim, terus Dark Knight Returns 2 juga mannnnaaa? Agak2 bingung baca komik Frank Miller yang satu ini, dalem gitu loh, ga enteng....Kayaknya komik Amrik sekarang temanya berat-berat. Beda ama komik Jepang yang tersegmen dengan baik. Tidak semuanya berat.Bayangkan Identity Crisis, Civil War, Infinite Crisis...tema pembunuhan, perselisihan politik, Haduh....kasian anak kecil yang pengin baca komik Superman, Batman gitu. Lah pada 'moody' dan gelap gitu ceritanya. Ga heran kalo bawaan orang Amrik pingin perang mulu.Komik Jepang masih mending...sekarang lagi favorit H2 (Adachi Mitsuru), Beck (Harold Sakuishi), Accidents (Yamada Takatoshi)...great storyline, great art...Lebaran sebentar lagi...Mohon dimaafkan segala kesalahan. Taqobalallohu minna wa minkum taqobbal yaa kariim...
Posted by afterglue | 

Tuesday, October 17, 2006
Ya Alloh...
Ramadhan tinggal empat harian lagi? Dan apa yang kuperoleh? Nyaris nol. Tadarus ga nyampe satu juz, tarawih bolong (nyaris kosong malahan), malu-maluin pokoknya...Mana ghirah-nya?? Ga ada.
Dan yang berlalu cuma waktu, menebak-nebak sampaikah usia hingga ramadhan mendatang? Surabaya kayaknya ga pernah benar-benar nyaman untuk tempat berkontemplasi, atau apalah namanya. Panas, hiruk pikuk, sumuk tenan, apalah istilahnya, pokoknya puanasssss, jadi mau melakukan perenungan malah jadi pingin kabur. Cari sebotol fruit tea atau mizone......
Dan yang berlalu kemudian cuma waktu, Ya Alloh....ampuni kelalaian yang tak perlu ini (emang ada kelalaian yang perlu???)
Posted by afterglue | 

Wednesday, September 27, 2006
Ramadhan sudah berjalan empat hari, semestinya kegembiraan menyambut ramadhan dibarengi dengan intensitas ibadah yang meningkat.
Tapi...
Kok jadi begini? Males-malesan, hohahem, ngantuk mulu. Bahkan berbuka pun seperti kurang selera. Duh, kenapa ya?
Semoga ramadhan tersisa menjadi lebih baik. Aduh.....dasar diriku.
Posted by afterglue | 

Friday, September 22, 2006
Ada yang liat Kick Andy kapan itu? Wawancara dengan B.J. Habibie terkait peluncuran bukunya 'Detik-detik yang menentukan'. Entah kenapa ada semacam penyesalan mengapa kita sebagai bangsa terjebak euforia anti Orde Baru setelah Pak Harto mengundurkan diri. Padahal dengan ditunjuknya B.J. Habibie secara tidak sadar kita sebenarnya menyerahkan nakhoda kepada orang yang benar. Bullshit semua penolakan hanya karena Habibie adalah anak emas Soeharto, sebab dari apa yang aku lihat dan aku rasakan dia adalah orang yang tulus, tidak pretensius, dan terbukti - meski kini perlahan-lahan telah banyak dilupakan - dialah yang membuka banyak keran yang selama 32 tahun tertutup. Apakah itu kebebasan pers, pembebasan Tapol, lepasnya Timor Timur (apa saat ini, dalam kondisi seperti ini, bencana di mana-mana, kita masih mau direcokin Timtim sekali lagi???) dan banyak hal lain yang kita anggap 'taken for granted' saat ini adalah hasil dari masa pemerintahan pendek beliau.
Sejarah mungkin menjadi semacam episode kabur bagi keseharian kita, padahal apa yang terjadi pada 1997-1998 akan menjadi bahan pelajaran bagi anak cucu kita kelak, tercetak dalam buku sejarah, buku2 otobiografi entah siapa. Bayangkan apa yang akan aku jawab kalau kelak ada yang bertanya 'ada di mana bapak pada 1997 itu?' Hehehe...maaf saja, pas Pak Harto pidato mengundurkan diri aku masih tidur tuh. Segala gejolak di Jakarta terasa begitu berjarak dengan banyak dari kita. Kita hanya memandangnya dari televisi, sama halnya dengan saat ini kita menonton banyak reality show kriminalitas yang seringkali konyol. Kita mengabaikan meski begitu nyata dan jelas mempengaruhi arah bangsa ini.
Tapi kemudian bangsa yang mana? Entahlah, banyak dari kita kurang perduli.
Dan di era di mana seorang wakil rakyat bisa tertangkap beradegan porno di HP, atau sepasang calon bupati (yang kini terpilih pula!!!) kedapatan berpose panas di media serupa, maka betapa kita merindukan orang-orang berotak cerdas dan tulus seperti Habibie untuk memimpin negara ini. Ribuan orang berotak cerdas - taruhan satu juta - bisa dipastikan enggan mengambil posisi sebagai pembuat keputusan bagi ratusan juta penduduk negeri ini. Sebab bagaikan ikan arowana, politik seperti lumpur Lapindo, butek, keruh, dan dipenuhi ikan-ikan yang bebal. Banyak dari arowana itu mungkin lebih rela diletakkan di akuarium indah. Dalam analogi serupa, banyak dari orang-orang cerdas itu mengambil jalan pragmatis bagi hidup mereka sendiri-sendiri daripada tercebur dalam kehidupan politik yang oportunis. Contoh kasus : Alwi Shihab, orang pinter, baik, tapi seringkali dioprak-oprak orang gara-gara terlibat di PKB.
Kemudian konsekuensinya, tentu saja kita hanya bisa memilih orang-orang yang melakukan pendekatan kekuasaan dengan perhitungan angka massa saja, dengan tunggangan politik sesaat saja, tanpa benar-benar memikirkan apa yang dilakukannya setelah memimpin nanti. Jadi apa perduli orang kalau seorang pemimpin beradegan porno sepanjang massanya berjuta-juta dan menganggap itu semua fitnah belaka? Betapa mudahnya jadi bupati, gubernur, presiden....
Posted by afterglue | 

Wednesday, September 20, 2006
Sebenarnya tulisan ini sudah melekat di benak dan mestinya juga sudah harus tampil di blog ini. Tapi apa daya, segala macam kesibukan yang turun temurun menundanya.
Oke, kembali ke topik. Minggu-minggu belakangan kayaknya mood-ku lagi 80-an sekali. Diawali dari sebuah klip yang diputer di bis Malang-Surabaya. Rano Karno dengan Bukalah Kacamatamu. Ketawa aja ngelihatnya. Video klip buatan bapak-bapak di TVRI, klasik, berkilau-kilau ala Selekta Pop. Jadi teringat pas jaman SMP dulu. Ada guru-guru eh..calon guru dari Program Diploma II, ato lebih dikenal sebagai guru praktek. Nah, salah satu dari mereka, atas request dari anak2 SMP yang masih keganjenan saat itu rela menyanyi lagu ini. Gdubrak!!! Lucu aja mengingatnya.
...kelap-kelip lampu di kota, kutak-kutik matamu nakal, senyum manis rayuan gombal, berdiri bulu kudukku...Horor juga lagu ini, sampe bulu kuduk ikut berdiri :))
Terus tengah malam kapan itu, TPI muter filmnya Amy Priyono. Rano Karno (!!) ama Soraya (Zoraya??) Perucha. Judulnya 'Yang Terlarang Yang Tersayang'. Ceritanya sih klasik. Soal pertentangan antar generasi, anak mama yang mendadak jadi bandel dan terpikat pada seorang hostess (dalam pengertian yang masih 'innocence' lho). Dia rela meninggalkan kekayaannya demi hostess itu. Mengajaknya menikah dan berhenti dari kuliah. Kemudian hostess itu menyemangati pria ini agar mau kuliah lagi. Dan endingnya itu lho, sangat Indonesia tapi sekaligus gak maksa. Just fit right in...Belum lagi soundtrack-nya yang jujujujung...jujujung....synthesizer gitulah. Dan tentu saja jangan lupa, harus ada apa dalam film Indonesia jaman dulu? Sex? Salah...Yang harus ada adalah Zainal Abidin!!! Hahaha...dia kayaknya aktor wajib deh. Jadi bapak-bapak over protektif, jadi om-om, jadi bapak bijaksana. All around pokoknya.
Satu catatan, pertentangan antar generasi di film ini tidak diwakili dengan mata mendelik-delik, ucapan-ucapan dengan volume kampanye, sebagaimana sinetron-sinetron sampah Punjabi dkk. Semuanya dibawakan dengan wajar. Lagipula kita bukan orang bodoh kok. Kemarahan mudah dipahami tanpa pelototan mata dan volume-volume kampanye itu.
Film yang fun dan nostaljik (??)
Lantas yang terakhir membangkitkan mood 80-an adalah pas liat duet Vina Panduwinata dengan Fariz RM di tivi. Vina tentu saja telah memperoleh penghargaan sebagaimana mestinya, album the best-lah, konser tunggal-lah, nah!! Kupikir seseorang macam Fariz RM juga dan sangat pantas memperolehnya. Entah kenapa dia sepertinya terlupakan dalam kancah musik dewasa ini. Siapa meragukan kualitas lagu-lagunya tahun 80 hingga 90-an? Barcelona, Sundown at Midnight, Persimpangan Cinta (all time favourites), Mungkin Ini Cinta, dst dst....Dulu sempat juga liat konser dia bareng Superdigi dan Tujuh Bintang. Ada Eet Sjahranie segala. Jaman SMP, konser yang menyenangkan. Duh...Apa karena dia tergabung di Musica yang notabene berukuran kecil dibandingkan raksasa2 label lainnya macam Sony BMG, Universal, ato Warner Music? Sehingga dia tidak memperoleh cukup kesempatan untuk mengasah kembali kemampuannya? Entahlah....Sudah saatnya ada yang berpikir untuk membuat album Tribute to Fariz RM....Pasti dahsyaat.
Ah, tahun 80-an yang menyenangkan. Masih di bawah rezim Soeharto tapi who cares???Masih kecil kok akunya, yang penting masa-masa itu menyenangkan untuk dikenang-kenang lagi.
Posted by afterglue | 

^